Artikel
Bahasa Minangkabau sebagai bahasa ibu
Oleh:
Jefri Pramana Putra
Latar Belakang
Bahasa
Minangkabau adalah bahasa yang dituturkan oleh orang minangkabau sebagai bahasa
ibu khususnya di provinsi sumatera barat (terkecuali kepulauan mentawai),
bagian barat provinsi Riau, dan Negeri
Sembilan, Malaysia.[1]
Bahasa ibu (bahasa asli, bahasa pertama; secara harafiah mother tongue dalam bahasa
Inggris) adalah bahasa pertama
yang dipelajari oleh seseorang. Dan orangnya disebut penutur asli dari bahasa tersebut. Biasanya seorang anak belajar
dasar-dasar bahasa pertama mereka dari keluarga mereka.[2]
Kepandaian dalam bahasa asli sangat penting untuk proses belajar berikutnya,
karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar cara berpikir. Kepandaian yang kurang
dari bahasa pertama seringkali membuat proses belajar bahasa lain menjadi
sulit. Bahasa asli oleh karena itu memiliki peran pusat dalam pendidikan. Banyak
sekali bahasa daerah yang terdapat di Indonesia. Misalnya saja bahasa Sunda,
bahasa Betawi, bahasa Batak, bahasa Minangkabau, bahasa Jawa, bahasa Ambon dan
masih banyak lagi bahasa daerah yang terdapat di Indonesia. Disini penulis akan
fokus membahas eksistensi bahasa Minangkabau sebagai bahasa ibu pada saat
sekarang ini dan Faktor-faktor yang mempengaruhi pudarnya eksistensi bahasa
Minangkabau.
Ekesistensi Bahasa
Minangkabau sebagai Bahasa Ibu Pada Saat ini
Eksistensi
bahasa Minangkabau sebagai bahasa ibu pada saat sekarang ini sudah mulai
berkurang. Pada zaman sekarang ini generasi muda sudah banyak yang tak
menggunakan bahasa Minangkabau dengan baik atau pun tak sama sama sekali
menggunakan bahasa Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari. Mereka lebih senang
berkomunikasi menggunakan bahasa gaul/fokem atau bahasa asing.
Melihat betapa pentingnya bahasa bagi
masyarakat pemakainya, dan lambat laun eksistensi bahasa ibu mulai memudar sehingga
menjadi perhatian dunia. UNESCO sebagai Organisasi Pendidikan, Ilmiah, dan
Kebudayaan dalam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), pada bulan November 1999
menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.
Seharusnya kita patut bangga dan mengahargai mereka semua yang telah membuat gagasan luar biasa seperti
itu. Indonesia menunjukkan rasa kepedulian terhadap bahasa daerah, yang
tuangkan dalam Pasal 36, Bab XV, UUD 1945 yang berisi di daerah-daerah yang mempunyai bahasa
sendiri, yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya bahasa Jawa,
Sunda, Madura, dan sebagainya) bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara
juga oleh negara. Bahasa-bahasa itu pun merupakan sebagian dari kebudayaan
Indonesia yang hidup.
Penulis ingin mengajak para generasi
muda, khusunya generasi muda Minangkabau untuk mencintai dan melestarikan
bahasa ibu kita. Karena bahasa itu menunjukkan identitas suatu daerah dan
bahasa juga salah satu unsur kebudayaan. Jangan sampai sesuatu yang telah
menjadi identitas daerah kita ini punah karena kita tidak memeliharanya.
Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pudarnya
Eksistensi Bahasa Minangkabau
Sebagai generasi muda dan seorang mahasiswa
Sastra Daerah Minangkabau penulis sangat prihatin akan eksistensi bahasa
Minangkabau sebagai bahasa ibu pada saat
sekarang ini, Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi memudarnya
eksistensi bahasa Minangkabau sebagai bahasa ibu di zaman sekarang ini yaitu
faktor zaman, faktor sosial dan faktor
teknologi.
Faktor zaman sangat mempengaruhi memudarnya eksistensi bahasa Minangkabau yang
notabennya sebagai bahasa ibu bagi orang Minangkabau, Karena dengan
berkembangnya zaman saat sekarang ini sudah jarang generasi muda Minangkabau
yang menggunakan bahasa Minangkabau dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka
lebih bangga menggunakan bahasa gaul, maupun bahasa asing untuk berkomunikasi
dalam kehidupanya sehari-hari. Bahkan yang lebih parahnya lagi mereka memandang bahwa bahasa Minangkabau atau
bahasa ibu itu adalah bahasa yang jadul (Ketinggalan
Jaman).
Berikutnya adalah faktor sosial yang
mempengaruhi memudarnya esksistensi bahasa Minangkabau pada saat ini, Bahasa
Minangkabau akan selalu eksis apabila bahasa tersebut di gunakan selalu dalam
kehidupan sehari-hari. Semua itu berawal dari lingkungan keluarga, karena
keluarga adalah tempat yang paling tepat untuk memperkenalkan bahasa daerah
pertama kali. Akan tetapi yang saat sekarang ini sering terjadi ialah banyak
keluarga Minangkabau yang tak menggunakan bahasa Minangkabau dalam berkomunikasi
dalam keluarganya.
Peran guru Budaya Alam Minangkabau (BAM) juga
cukup mengambil andil dalam menjaga eksistensi bahasa Minangkabau sebagai
bahasa ibu. Karena bahasa dalam pelajaran BAM itu membahas tentang adat dan
istiadat Minangkabau dan kebudayaan Minangkabau. Kebudayaan yang terkenal di
Minangkabau yaitu dalam bentuk tradisi lisan. Oleh karena itu guru BAM disini
harus dapat berkomunikasi dan menyampaikan materi pelajaran ke peserta didiknya
dengan mengunakan bahasa Minangkabau. Fakta yang terdapat dalam lapangan pada
saat sekarang ini banyak guru BAM yang tak pasih berbicara bahasa Mianangkabau
dan ketika mengajar BAM pun menggunkan bahasa Indonesia.
Faktor teknologi juga berpangaruh besar dalam
memudarnya bahasa Minangkabau sebagai bahasa ibu. Karena sekarang banyak sekali
generasi muda Minangkabau yang mengikuti perkembanagan teknologi. Misalanya
saja dalam dunia maya, banyak generasi muda Minangkabau yang mengunakan atau
mengakses dunia maya tersebut. Dalam komunikasi mereka dalam dunia maya sangat
jarang generasi muda Minangkabau yang menggunakan bahasa Minangkabau. Karena
mereka semua itu tak ingin di bilang kampungan oleh teman-teman mereka. Oleh
karena itu, mereka lebih senang berkomunikasi di dunia maya tersebut dengan
menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa gaul. Tetapi masih ada juga
generasi muda sekarang yang
berkomunikasi dengan bahasa Minangkabau walaupun bahasa mereka sudah campu
aduk, tak seutuhnya bahasa Minangkabau.
Penutup
Bahasa Ibu bisa kita
katakana sebagai bahasa daerah kita. Seperti halnya bahasa Minangkabau sebagai
bahasa ibu bagi orang Minangkabau yang berada di provinsi
sumatera barat (terkecuali kepulauan mentawai), bagian barat provinsi Riau, dan Negeri
Sembilan, Malaysia.
Bahasa ibu kini sudah semakin memudar
eksistensinya. Banyak sekali factor yang melatar belakangi memudar eksistensi bahasa
Minangkabau sebagai bahasa ibu. Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas
yaitu faktor zaman, faktor sosial, dan faktor teknologi.
Penulis ingin menghimbau untuk semua yang
peduli akan eksistensi bahasa ibu. Marilah kita coba mendidik anak untuk menggunakan bahasa ibunya dari sejak
dini agar mereka bisa mengenal kebudayaan daerahnya, karena didalam budaya
warisan leluhur tersebut terkandung nilai-nilai filosofis atau ajaran-ajaran
yang sangat luhur mengenai kehidupan dan perilaku manusia itu sendiri, serta dapat tetap memegang teguh kebudayaannya tanpa
meninggalkan arus globalisasi. Bangsa
yang besar adalah bangsa yang menghargai kebudayaan nenek moyangnya.[3]
Penulis juga ingin mengimbau kepada para guru
mata pelajaran mulok Budaya Alam Minangkabau (BAM) agar menyampaikan pelajaran
atau berkomunikasi dengan anak didik
menggunakan bahasa Minangkabau. Karena selama ini penulis sangat sedih ketika
mengetahui proses belajar mengajar Budaya Alam Minangkabau (BAM) menggunkan
bahasa Indonesia tidak menggunakan bahasa Minangkabau.
Daftar
Pustaka
----------------.
(2008). “Bahasa Ibu” dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_ibu. 20 desember
2012 Pukul 15.03
Rita, Neneng.(2009).
Mendidik Anak Menggunakan Bahasa Ibu Sejak Dini. Dalam http://kids-tadikapuri.blogspot.com/2009/09/mendidik-anak.html. 20 Desember
2012 Pukul 15.17
---------------.
(2012). “Bahasa Minangkabau” dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Minangkabau. 20 Desember
2012 Pukul 15.35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar